Pages

aku sudah mulai berdebu
terbatuk batuk, walau langka ini masih pasti
berputar tanpa henti
menjadi saksi atas sejarah insan
yang datang untuk mengabdi
menyingkirkan semua ego demi menyongsong mentari
ya aku...
di pojok kelas menjadi pengingat waktu..penyimpan semua kisah..

teringat pertama kali aku disini
kulihat sesosok insan yang penuh dedikasi
pancaran mata yang penuh harapan.
akan masa depan yang yang lebih indah bagi sesama
kau...
ya kau.. dirimu sosok insan yang penuh dedikasi
datang bagi generasi yang tak tau arah, menjadi sosok yang harapan bangsa
agar tunas dapat tumbuh dan berkembang , walau kadang kau tak dihargai ..
itu sebuah ironi...!!!!  kadang ..( diam dan menyeringai )
... memang ... tapi itu sering terjadi..(tertawa terbahak bahak)
pasukan sederhana yang bersenjatakan pena.

jelas dalam ingatan ku
dalam jarum jam, menit dan detik ini tersimpan
waktu itu..( diam sejenak )
kau hampir putus asa dan menyerah.
entah makluk apa yang memasuki salah satu tunas itu ...kau simpan air matamu
dan penuh doa dalam serapahmu . . .agar kelak ia menjadi abdi yang dibanggak....an

atau.....tangis bahagia mu..
ketika tunas itu sudah mulai berkembang dan merindang . . .
walau kau tak diingatnya ,,,, tak mengapa .....
kau tersenyum.... manis sekali . . .

bapak guru ....
harus dengan apa aku menggambarkan mu
kau sosok yang tak ada duanya
dapat tertawa disaat sedih bersamaan
selalu perduli walau kau sering diacuh dan lupakan
masih mampu berlari walau semua beban hidup mengikatmu
kau ada bagai angin
kau datang bagai purnama
kau datang bagai bintang
karena kau adalah mentarinya jaman
kau selalu acuh  dengan keberartianmu
kau hanya ingin memberi makna bagi sesama

setengah abad sudah berlalu
kita sudah menjadi kawan ... karena hampir setiap minggu kau menyapaku dengan serbetmu
selepas semua tunas berlalu, dan kau mulai bercerita ...
kita kawan ...sekarang kau pak tua guru dan aku jam tua renta ...
aku jam dipojok kelas .. kepalaku sudah mulai berdebu
karena kau sudah tidak mampu mejangkau ku.
kau mulai renta dan terseok
walau senyummu masih indah
setiap menyambut dan melepas tunas bangsa
aku bangga menjadi sahabatmu

sahabat...
biarlah aku menjadi saksi
ketika kelak tuhan mengunci mulutmu
aku akan menjawab pertanyaan Tuhan
"dimana kau habiskan masa mudamu ?" (suara keras dan lantang)
karena aku tau ... aku benar benar tau

sahabat muda dan tuaku
aku akan simpan semua tangis, tawa sumpah dan doa mu..
dalam jarum jam, menit dan detik ini

semoga Tuhan membalasmu pak Tua
pemberi arti,
penembus tunas  menjadi harapan ..



jakarta 17, november 2013
21.00





0 komentar:

Posting Komentar