Pages

0
















malam itu kita bersama menghabiskan malam, dalam diam dan tanpa tatap muka, kau disana dan aku disini, kebersamaan walau badan berjauhan... aku terdiam memikirkanmu tapi aku tak tau apa yang ada dalam pikiranmu, hanya sekedar menebak apakah itu mungkin bisa, tidak tapi yang pasti kau membuatku terdiam.

aku meminum kopi tapi kepala ku tetap disergap kantuk, karena aku dihinggapi pilihan yang lain..dan aku memikirkannya, walau harapanku sebenarnya dirimu, yang tak pernah terucap tapi selalu kuharapkan...tapi kau akan menjadi tasbih dan zikirku...
0

mata yang tertutuphati yang terbuka pikiran yang berkeliaran takan pernah tau bahwa semua akan kembali lagi, kesini kembali ke balik jendela ini, menyapa mentari pagi, melihat konser alam dalam suara burung yang saling bersahutan.

terletak dismping pintu, tapi terlalu takut untuk membuka pintu, karena pintu terlalu terbuka tidak cukup berani bagi aku yang mempunyai sikap pengecut ini, jendela ini banyak kisah yang telah aku saksikan melihat kegembiraan, kesedihan dan menginip ketika emak pergi dan menunggunya pulang. kabar pertama yang harus aku dapatkan ialah melalui jendela ini, lalu aku akan berlari kearahnya, jelasnya ke kantong bawaannya, yang selalu menyimpan harta karun bagi anak anaknya..tapi tak aku pungkiri kehangatan pelukannya menyembuhkan luka, membangkitkan semangat, dan mengenyahkan ketakutan yang kadang aku bawa dari sekolah dan kewan sepermainanku..

tak cukup lebar tapi cukup untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, walau kusam tapi begitu berminyak karena selalu digunakan untuk menyandarkan daguku dan tempat bermain saudara saudaraku, yang akan selalu dibuka di pagihari dan akan ditutup kembali ketika hari sudah mulai senja..

jendela masih ada walau sudah usang tapi kami bangga memilikinya karena itu adalah jendelaku, jendela kehidupanku, yang terlalu takut untuk melihat langsung semuanya..
0

pengganggu tidur, pengisi inspirasi, leleh jadi berarti..hari ini aku bukan aku,karena aku akan menjadi seseorang yang lain, yang hatinya sudah tergadai walau tak digadaikan, yang sudah terbeli walau tak pernah ku jual, dan yyyang anehnyalagi pembelinya pun tak pernah tau bahwa dia yang telah membeli hatiku...

aku adalah penggombal tapi yang lebih hebatnya lagi kau yang terdiam saja mampu menggombaliku, apa kerena aku yang terlalu bodoh, tapi tidak, aku agak mengenal hatiku walau kadang hatiku mempunyai pikiran sendiri dan takbisa aku arahkan.

kaulah yang selalu bermain disana, berlari dipelatarannya, menghias kebuh dan dan relung yang kosongnya